Suatu sore sehabis hujan, setelah shalat Ashar
Ku berjalan menyusuri jalan2 kecil
Dengan membawa serangkai bunga mawar dan air mawar
Sambil berdzikir yang tiada henti
Getar sukma membawaku menuju makam
Dalam becek hujan dan kelembaban tanah pekuburan
Kukunjungi pusara suamiku bersama trenyuhku
Meski alam telah memisahkan kita,
namun ku rasakan kasih dan cinta yang bertaut
Meski alam kita berbeda,
namun benang merah dalam kalbuku
masih tersisa meski tinggal sejengkal
dan akan ku simpan seumur hidupku
Wahai belahan hati yang telah berpulang
tenanglah disisiNya, merdekalah dan mengabdi abadi;
Biarkan anak-anak bersamaku mendulang hakikat
Kuakan menggantikan peranmu sebagai seorang ayah
Kan kuingatlan mereka agar selalu mendoakanmu
Menjelang petang,
saat mentari mulai merayap turun berpindah ruang
ku taburkan bunga mawar dan air mawar
diatas pusaramu dengan doa dan Firman-Nya
ku belai pusaramu seakan membelai tubuhmu
dan kucium batu nisanmu seakan mencium keningmu
agar kau merasa bahwa aku tetap peduli
dan akan bertemu kembali kelak
nun di Arasy tempat-Nya semayam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar